Malang, yustitiamedia.com — Tradisi adat Jawa Tedak Siten kembali digelar di Padepokan Seni MangunDarmo, Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jumat (1/5/2026). Prosesi sakral ini tidak hanya menjadi wujud pelestarian budaya (nguri-uri kabudayan), tetapi juga sarat makna sebagai doa dan harapan bagi masa depan generasi penerus.
Acara berlangsung khidmat dan dipimpin langsung oleh pimpinan padepokan, Ki M. Sholeh Adipramono, STT. Ritual tersebut diselenggarakan oleh keluarga besar bagi Raya Kinayun Thalasa Tasya Karuhma Nurillahi, bayi berusia tujuh bulan, putri pasangan Febri Ramadoni P. dan Nuzulla Rahma N.
Secara harfiah berarti “turun tanah”, Tedak Siten merupakan salah satu tahapan penting dalam tradisi Jawa yang menandai fase awal kehidupan anak saat mulai belajar berjalan. Lebih dari sekadar seremoni, prosesi ini mengandung nilai filosofis tentang perjalanan hidup, harapan, dan doa orang tua bagi masa depan sang anak.
Rangkaian ritual diawali dengan pembersihan kaki bayi sebagai simbol kesucian dan kesiapan menapaki kehidupan. Selanjutnya, sang anak berjalan di atas jadah tujuh warna—merah, kuning, putih, merah jambu, biru, hijau, dan ungu—yang melambangkan beragam tantangan hidup yang kelak akan dihadapi.
Prosesi berlanjut dengan menaiki dan menuruni tangga tebu, yang dimaknai sebagai antebing kalbu atau keteguhan hati dalam meraih cita-cita. Tahap berikutnya, bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam berisi berbagai benda, seperti buku, alat tulis, dan perhiasan. Benda yang dipilih diyakini menjadi simbol kecenderungan masa depan atau profesi sang anak.

Ritual kemudian ditutup dengan siraman air bunga setaman sebagai doa agar anak kelak membawa nama baik bagi keluarga dan lingkungan.
Ki M. Sholeh Adipramono menegaskan bahwa pelaksanaan Tedak Siten bukan sekadar menjalankan tradisi, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
“Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap langkah awal kehidupan membutuhkan bimbingan, doa, dan nilai-nilai luhur dari orang tua. Ini juga menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan budaya tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi refleksi bagi keluarga dan masyarakat tentang pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak sejak dini, agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berbudi pekerti luhur.
Melalui penyelenggaraan ini, Padepokan Seni MangunDarmo kembali menegaskan eksistensinya sebagai pusat pelestarian budaya Jawa di Malang Raya, sekaligus mengajak generasi muda untuk tetap berakar pada tradisi di tengah derasnya perkembangan zaman.



Tinggalkan Balasan