Malang, yustitiamedia.com – Persoalan limbah organik masih menjadi tantangan di banyak wilayah pedesaan, termasuk kawasan yang memiliki aktivitas pertanian cukup tinggi. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan solusi sederhana namun berdampak melalui pengenalan dan pelatihan pembuatan Eco Enzyme kepada kelompok tani di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program FISINERGY 2026 (FIS in Energy with Society), sebuah program pengabdian masyarakat yang digagas BEM Fakultas Ilmu Sosial UM untuk memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberdayaan di bidang pendidikan, sosial-lingkungan, serta ekonomi digital.
Selama tiga hari, mulai 5 hingga 7 Juni 2026, mahasiswa terjun langsung ke tengah masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan limbah organik yang lebih produktif dan berkelanjutan. Salah satu fokus utama kegiatan adalah memperkenalkan Eco Enzyme sebagai alternatif pemanfaatan sampah organik rumah tangga yang selama ini belum dikelola secara optimal.
Sebelum turun ke lapangan, mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dari UKM BHUMI (Bersama Hijaukan UM dan Indonesia) guna memperdalam pemahaman mengenai konsep, manfaat, serta teknik pembuatan Eco Enzyme. Bekal tersebut kemudian diterapkan dalam kegiatan sosialisasi dan praktik bersama kelompok tani Desa Donowarih.
Eco Enzyme sendiri merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran yang dicampur dengan gula merah atau molase serta air. Proses fermentasi dilakukan dalam wadah tertutup selama beberapa bulan hingga menghasilkan cairan yang memiliki beragam manfaat, mulai dari pupuk cair alami, pengurang bau, hingga pendukung kesuburan tanah.
Bagi Desa Donowarih yang memiliki potensi besar di sektor pertanian, pemanfaatan Eco Enzyme dinilai relevan sebagai salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis sekaligus menekan volume sampah organik yang dihasilkan masyarakat.
Dalam sesi sosialisasi, mahasiswa menjelaskan konsep dasar Eco Enzyme beserta manfaatnya bagi lingkungan dan pertanian. Peserta diperkenalkan pada formula pembuatan Eco Enzyme dengan komposisi 3:1:10, yaitu tiga bagian limbah organik, satu bagian gula merah atau molase, dan sepuluh bagian air.
Tak hanya menyampaikan materi, mahasiswa juga membuka ruang diskusi bersama kelompok tani mengenai berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait pengelolaan sampah organik dan penggunaan pupuk kimia dalam kegiatan pertanian sehari-hari.
Diskusi berlangsung interaktif dan menjadi wadah pertukaran pengalaman antara mahasiswa dan petani mengenai praktik pertanian berkelanjutan yang dapat diterapkan secara sederhana namun memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan Eco Enzyme. Para peserta diajak mengenali bahan-bahan yang digunakan, mulai dari limbah organik berupa kulit buah dan sayuran, gula merah, hingga air bersih. Dengan pendampingan mahasiswa, peserta mempraktikkan secara langsung proses pencampuran bahan hingga teknik penyimpanan yang tepat selama masa fermentasi.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Kelompok tani tidak hanya menjadi pendengar, tetapi turut terlibat dalam setiap tahapan pembuatan Eco Enzyme. Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh keterampilan baru dalam mengolah limbah organik rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai manfaat bagi lingkungan maupun sektor pertanian.
Sebagai bentuk penguatan materi, mahasiswa juga mendemonstrasikan pemanfaatan Eco Enzyme yang telah difermentasi pada tanaman. Cairan Eco Enzyme dicampurkan dengan air sebelum diaplikasikan sebagai pupuk organik cair. Demonstrasi dilakukan di kebun milik Pak Sukri, salah satu anggota kelompok tani Desa Donowarih, yang sekaligus menjadi lokasi praktik lapangan.
Kegiatan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai manfaat Eco Enzyme dalam membantu menjaga kualitas tanah serta mendukung pertumbuhan tanaman dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
Pak Sukri menyambut positif kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa UM tersebut. Menurutnya, program ini memberikan wawasan baru sekaligus solusi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami jadi mengetahui cara memanfaatkan limbah organik yang selama ini hanya dibuang. Meskipun belum bisa sepenuhnya menyelesaikan masalah yang ada, harapannya dapat mengurangi penumpukan sampah organik,” ujar Pak Sukri.
Melalui kegiatan ini, kelompok tani Desa Donowarih memperoleh pengalaman baru dalam mengelola limbah organik menjadi produk yang bernilai guna. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bermanfaat kini dapat diolah menjadi alternatif pupuk organik yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.
Program ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah berkelanjutan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah, Eco Enzyme diharapkan dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus mendukung produktivitas pertanian di Desa Donowarih.
Penulis: Kharisa Afipah
Mahasiswa Universitas Negeri Malang



Tinggalkan Balasan