Malang, yustitiamedia.com – Universitas Negeri Malang (UM) mulai mengambil langkah konkret untuk menekan polusi udara, khususnya di area kampus yang kerap menjadi titik aktivitas merokok. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menanam tanaman lidah mertua (Sansevieria) secara masif di sejumlah ruang terbuka hijau.
Program penghijauan berbasis alam (nature-based solution) ini tidak sekadar ditujukan untuk mempercantik lingkungan kampus. UM menempatkan lidah mertua sebagai tanaman strategis yang berfungsi menyerap polutan, sehingga kualitas udara di area kampus menjadi lebih sehat.
Guru Besar Geografi UM, Sumarmi, menegaskan bahwa lidah mertua dipilih karena kemampuannya menyaring udara jauh lebih efektif dibandingkan tanaman hias pada umumnya.
“Lidah mertua ini adalah solusi nature-based yang efisien. Ia bekerja 24 jam menyaring udara racun. Kami telah memulainya dengan menanam banyak lidah mertua di sepanjang teras pascasarjana FIS UM yang salah satunya bertujuan untuk menyerap karbon monoksida, yang disebabkan karena aktivitas mahasiswa yang merokok,” ujarnya.
Menurutnya, lidah mertua dikenal mampu menyerap zat berbahaya seperti karbon monoksida, nikotin, serta racun udara lainnya. Keunggulan lain tanaman ini adalah tetap menghasilkan oksigen meski pada malam hari, sehingga berpotensi menjaga kualitas udara secara berkelanjutan.
Gerakan penanaman lidah mertua ini kemudian diperkuat langsung oleh Rektor UM, Hariyono, yang juga merupakan Guru Besar Sejarah. Pada Rabu (18/2/2026), Hariyono bersama sejumlah sivitas akademika melakukan penanaman puluhan lidah mertua di beberapa titik area terbuka kampus.
Hariyono menyampaikan, program ini membawa dua dampak sekaligus: memperbaiki kualitas udara dan memperkuat wajah kampus sebagai ruang yang asri.
“Selain bisa menyerap polutan dan membuat kualitas udara lebih baik dan sehat, penanaman lidah mertua ini juga membuat pemandangan kampus jadi asri dan indah,” ucapnya.
UM menargetkan penanaman lidah mertua dilakukan lebih luas sebagai bagian dari pembentukan green belt atau “benteng hijau” di lingkungan kampus. Konsep ini diharapkan mampu menjadi penyangga alami untuk menekan polusi udara sekaligus memperluas ruang hijau.
Di akhir kegiatan, Hariyono juga mengimbau seluruh sivitas akademika UM agar ikut menggerakkan program tersebut di masing-masing fakultas maupun unit kerja. “Mohon bantuan teman-teman untuk menggerakkan penanaman ini di fakultas atau unit masing-masing,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan