PACITAN, yustitiamedia.com – Dalam rangka mendorong implementasi nyata pilar-pilar pembangunan berkelanjutan, Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) resmi menyelenggarakan program kolaboratif berupa Kegiatan Kerja Sama Pelatihan Batik. Kegiatan ini dilaksanakan langsung di pusat industri lokal, yaitu UMKM Batik Saji yang bertempat di Desa Ngerjoso, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pacitan. Program ini dirancang sebagai bentuk implementasi pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan kajian akademik sejarah dengan keterampilan praktis berbasis budaya lokal, di mana batik tidak hanya dipandang sebagai komoditas melainkan sebagai hasil proses historis yang sarat nilai filosofis.
Kerja sama pelatihan batik ini bertujuan untuk mengintegrasikan keilmuan sejarah dengan praktik budaya dalam bentuk keterampilan membatik yang aplikatif dan kontekstual. Secara khusus, agenda ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai historis dan filosofis batik sebagai warisan budaya, sekaligus mengembangkan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif. Lebih lanjut, program ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM demi mendukung pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), mendorong jiwa kewirausahaan, serta menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik tinggi sekaligus kepekaan terhadap potensi budaya lokal.
Dalam pelaksanaannya, program pelatihan dijalankan dengan menggunakan metodologi partisipatif melalui pendekatan experiential learning. Pelatihan ini melibatkan secara aktif total 27 peserta yang terdiri dari delegasi akademisi UM dan para pembatik lokal dari Batik Saji. Melalui metode ini, peserta terlibat langsung dalam seluruh tahapan yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pelatihan yang terintegrasi. Bu Saji selaku pemilik UMKM Batik Saji bertindak sebagai mitra industri yang memberikan pendampingan teknis produksi. Sementara itu, penguatan dari aspek historis dan kultural dikawal langsung oleh perwakilan dosen Departemen Sejarah UM, yang meliputi Lutfiah Ayundasari, Nizam Alfahmi, Donny Maulana, dan Minarti.
Rangkaian kegiatan ini berhasil mencatatkan luaran aktual yang terukur dan dibuktikan melalui dua data riil utama. Pertama, dihasilkannya produk kain batik konkret yang menjadi hasil karya langsung dari kolaborasi para peserta selama pelatihan. Kedua, tercapainya pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk produk bermotif khas Pacitan yang diberi nama “Batik Watu Baksoka”. Keberhasilan capaian hasil ini disahkan langsung oleh Kepala Departemen Sejarah UM, Indah Wahyu Puji Utami, Ph.D., bersama Bu Saji selaku pimpinan UMKM.
Melalui target spesifik untuk melestarikan warisan budaya nasional dan menumbuhkan inovasi budaya, program ini berkontribusi langsung terhadap pencapaian SDGs Target 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) khususnya pada sub-SDGs Inovasi serta Penelitian dan Pengembangan, sekaligus SDGs Target 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) pada sub-SDGs Kolaborasi Berkelanjutan. Sinergi nyata ini diharapkan mampu memajukan industri kreatif yang inklusif di wilayah Pacitan.
Kendati demikian, tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program ini meliputi letak lokasi mitra di Pacitan yang lumayan jauh, serta adanya dinamika dalam memadukan unsur sejarah dengan aspek daya saing produk di pasar industri modern. Sebagai rekomendasi ke depan, kerja sama strategis ini berkomitmen untuk terus berlanjut secara berkesinambungan dengan mengembangkan ide-ide inovasi produk yang semakin berkembang dan adaptif terhadap pasar. (Red)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan