Malang, yustitiamedia.com — Universitas Negeri Malang (UM) terus memperkuat komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan melalui optimalisasi pengelolaan sampah yang diintegrasikan dengan upaya mendukung ketahanan pangan.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa UM, yang diajak memahami keterkaitan antara pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sampah organik, dan ketersediaan pangan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pengembangan Green Campus UM yang menempatkan pengelolaan sampah serta pendidikan dan penelitian sebagai bagian penting dari kampus ramah lingkungan.
Dalam kegiatan pembelajaran, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk melihat sampah sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.
Sampah organik dapat dikelola melalui proses pengomposan dan dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung budidaya tanaman pangan di lingkungan kampus.
Praktik tersebut membangun konsep ekonomi sirkular, yaitu mengembalikan material organik ke dalam siklus produksi sehingga dapat mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
UM sendiri telah mengembangkan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk serta pemanfaatan lahan kampus untuk tanaman pangan lokal sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.
Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Geografi Lingkungan, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah perlu dipahami sebagai bagian dari upaya membangun sistem lingkungan dan pangan yang berkelanjutan.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa sampah organik bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber daya untuk mendukung ketahanan pangan. Ketika sampah organik diolah menjadi pupuk dan digunakan untuk menghasilkan pangan, kita membangun sebuah siklus yang lebih berkelanjutan sekaligus menerapkan nilai-nilai Green Campus dalam kehidupan akademik,” ujarnya.
Pendekatan ini sejalan dengan program UM yang mengembangkan ecofarming berbasis pangan lokal melalui pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk alami.
Salah seorang mahasiswa menyampaikan bahwa pembelajaran tersebut memberikan pengalaman baru dalam memahami pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan.
“Selama ini saya memandang sampah organik hanya sebagai limbah yang harus dibuang. Setelah mengikuti pembelajaran ini, saya memahami bahwa sampah organik masih dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman pangan,” tuturnya.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa menerapkan prinsip pengelolaan sampah secara bertanggung jawab, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pengelolaan sampah menjadi pupuk organik ini mendukung SDGs 2 (Zero Hunger), yang menargetkan penghapusan kelaparan, pencapaian ketahanan pangan dan perbaikan gizi, serta pengembangan pertanian berkelanjutan.
Di sisi lain, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDGs 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengurangan dan pemanfaatan kembali sampah, serta SDGs 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis pengalaman.
Dengan demikian, optimalisasi pengelolaan sampah dalam pembelajaran Geografi Lingkungan menjadi salah satu bentuk nyata implementasi Green Campus UM, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pembelajaran, inovasi, dan aksi untuk mewujudkan sistem pangan serta lingkungan yang berkelanjutan.



Tinggalkan Balasan