MALANG, yustitiamedia.com – Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM) menghimpun ratusan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari dalam dan luar negeri dalam gelaran 3rd International Conference on History, Social Sciences, and Education (ICHSE) 2026 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 UM. Forum internasional ini secara khusus membedah metodologi sejarah lisan (oral history) sebagai pendekatan epistemologis untuk membongkar pembungkaman sejarah, merawat ingatan kolektif, dan memperjuangkan keadilan sosial.

Kegiatan ini bertujuan mempertemukan perspektif akademisi global dan lokal dalam memposisikan sejarah lisan bukan sekadar metode pengumpulan data, melainkan alat dekolonisasi pengetahuan. Melalui keterlibatan para pakar internasional, forum ini bertekad memperluas jangkauan sejarah lisan dalam merespons isu-isu krusial seperti perubahan iklim, hak asasi manusia, hingga reformasi pendidikan sejarah di sekolah.

Forum ilmiah ini menghadirkan empat pembicara utama lintas negara, yaitu Assoc. Prof. Dr. Vannessa Hearman (Curtin University, Australia), Assoc. Prof. Dr. Fernando A. Santiago Jr. (De La Salle University, Filipina), Prof. Dr. Diana Suhardiman (KITLV & Leiden University, Belanda), serta Asst. Prof. Dr. Aditya Nugroho Widiadi (Universitas Negeri Malang, Indonesia). Selain sesi pleno pembicara utama, puluhan peneliti dari berbagai negara mempresentasikan hasil riset mereka dalam sesi panel paralel yang terbagi ke dalam tujuh sub-tema, mulai dari sejarah lisan untuk tata kelola iklim hingga pedagogi kritis.

Diskusi mendalam sepanjang konferensi menegaskan peran sejarah lisan dalam memberikan suara bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan dari arsip resmi. Dalam sesi pemaparannya mengenai dekolonisasi historiography Asia Tenggara, Assoc. Prof. Dr. Fernando A. Santiago Jr. menekankan pentingnya wawancara sejarah lisan sebagai ruang dialog.

“Sejarah lisan tidak boleh dipandang hanya sebagai alternatif riset arsip, melainkan pendekatan komplementer yang memperluas catatan sejarah dan memfasilitasi dialog dekolonial dari pengalaman komunitas lokal,” tegas Assoc. Prof. Dr. Fernando A. Santiago Jr. di hadapan para peserta panel.

Pelaksanaan konferensi internasional ini berkontribusi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Inisiatif ini menyokong SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui penguatan metode sejarah lisan yang inklusif, mendokumentasikan suara perempuan serta kelompok marjinal, dan mengintegrasikannya ke dalam modul pembelajaran digital. Selain itu, keterlibatan aktif institusi dari Australia, Filipina, Belanda, dan Indonesia menegaskan komitmen pada SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pertukaran pengetahuan antarnegara.

Tantangan utama yang dihadapi dalam pengembangan kajian sejarah lisan adalah masalah etika riset, perlindungan narasumber trauma, serta terbatasnya akses pembelajaran sejarah lisan di tingkat sekolah menengah. Guna mengatasi tantangan tersebut, Departemen Sejarah FIS UM merekomendasikan pemanfaatan modul pembelajaran sejarah lisan berbasis digital secara lebih luas serta penyusunan panduan etika riset lapangan yang terstandarisasi bagi peneliti muda.