MALANG, yustitiamedia.com – Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM) menggelar konferensi internasional 3rd International Conference on History, Social Sciences, and Education (ICHSE) 2026. Kegiatan ber-skala internasional yang berlangsung pada 5–6 Agustus 2026 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 UM ini mengusung tema “Oral History for Social Transformation: Inclusivity, Democracy, and Equality”. Agenda ini merupakan hasil kolaborasi internasional antara Departemen Sejarah FIS UM dengan Kolektif Sejarah Lisan diantaranya: Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), NIOD Institute for War, Holocaust and Genocide Studies, SINTAS, serta Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Konferensi internasional dua tahunan ini bertujuan memfasilitasi dialog akademik lintas disiplin, menghubungkan penelitian teoritis dengan aplikasi praktis, serta menjadikan sejarah lisan sebagai instrumen transformasi sosial yang inklusif, demokratis, dan berkeadilan. Penyelenggara merancang forum ini untuk mengangkat narasi kelompok marjinal, memperkuat memori ekologis di tengah krisis iklim, serta mendorong inovasi pedagogi di era digital.
Dalam pelaksanaannya, panitia mengemas konferensi melalui serangkaian sesi keynote speech, presentasi panel tematik, workshop, masterclass, roundtable, hingga pameran poster ilmiah.
Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., mengawali jalannya acara dengan meresmikan pembukaan konferensi secara resmi di Lecture Hall GKB A20.
“Sejarah lisan berfungsi sebagai narasi tanding yang krusial untuk menambat jaringan informasi modern pada pengalaman hidup manusia yang autentik, sehingga sistem sosial kita tetap berkomitmen pada kebenaran dan martabat manusia,” tegas Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. saat menyampaikan pidato pembukanya.
Penyelenggaraan ICHSE 2026 menghasilkan berbagai pemikiran kritis serta strategi praktis dalam memanfaatkan sejarah lisan untuk merespons tantangan global modern.
“Melalui ICHSE 2026, kami bertujuan meningkatkan standar riset sejarah dan ilmu sosial menuju skala global sekaligus memperkuat kolaborasi internasional yang berkelanjutan,” ujar Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menambahkan dampak strategis kegiatan tersebut.
Agenda akademik ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Konferensi ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan akses wacana ilmiah inklusif, inovasi kurikulum berbasis sejarah lisan, dan pengembangan kapasitas pendidik. Di samping itu, forum ini merefleksikan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang diwujudkan melalui kolaborasi riset dan jaringan akademik yang solid antara institusi perguruan tinggi Indonesia dan lembaga penelitian internasional.
Tantangan utama pasca-konferensi ini adalah menjaga konsistensi jejaring riset antarbangsa serta mengimplementasikan metodologi sejarah lisan dalam kebijakan publik dan pembelajaran di sekolah. Mengantisipasi hal tersebut, Departemen Sejarah FIS UM merekomendasikan pembentukan konsorsium riset sejarah lisan berkelanjutan serta publikasi hasil kajian konferensi dalam jurnal ilmiah bereputasi internasional.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan