MALANG, yustitiamedia.com – Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM) bekerja sama dengan Initiative Critical Social Science Studies (ICSSS), Perpustakaan UM, Penerbit Marjin Kiri, Pelangi Sastra, dan Griyabuku Pelangi sukses menyelenggarakan kegiatan Bedah dan Diskusi Buku berjudul “Memori-Memori Kekerasan: Ketegangan, Identitas, dan Nasionalisme”.
Acara yang berlangsung secara luring pada Jumat (28/08) pukul 13.00–15.00 WIB di Pustakafe Perpustakaan UM ini memicu antusiasme besar dari puluhan peserta yang terdiri atas akademisi, mahasiswa, serta praktisi literasi. Diskusi ini menghadirkan Katharine E. McGregor (penulis buku), Arif Subekti (editor buku sekaligus Sekretaris Departemen Sejarah UM), dan Ardeti Jeni Abdilla (dosen Sejarah FIS UM) sebagai narasumber utama, dengan panduan moderator Nizam Alfahmi.
Kegiatan kolaboratif ini bertujuan memperluas ruang dialektika kritis dan pemahaman historis mengenai bagaimana memori kekerasan membentuk ketegangan, identitas, serta rasa nasionalisme dalam sejarah. Melalui pembedahan karya ilmiah ini, para penyelenggara bermaksud menghadirkan akses literasi sejarah yang objektif dan bernas bagi publik. Penyelenggara meyakini bahwa pendidikan sejarah yang kritis tidak boleh berhenti di dalam ruang kelas, melainkan harus menjangkau komunitas luas melalui forum-forum diskusi terbuka.
Dalam pelaksanaannya, panitia menerapkan metode diskusi panel berbasis ulasan kritis (critical book review) dan dialog interaktif dua arah. Arif Subekti memaparkan metodologi riset serta kedalaman temuan sejarah yang tertuang dalam bukunya, sementara Katharine E. McGregor dan Ardeti Jeni Abdilla memberikan analisis pembanding dari kacamata historiografi serta konteks sosial-politik di Indonesia. Pendekatan dialogis ini mendorong para peserta untuk membedah dinamika narasi sejarah secara aktif dan partisipatif sepanjang sesi acara.
Diskusi yang berjalan bernas ini membuahkan hasil konkret berupa peningkatan wawasan kritis peserta terhadap isu-isu historiografi kekerasan dan identitas nasional. “Pembedahan memori sejarah yang kritis seperti ini sangat krusial untuk melatih ketajaman analisis generasi muda agar mereka mampu memahami kompleksitas pembentukan identitas bangsa secara objektif,” tegas Arif Subekti di sela-sela sesi penyampaiannya. Selain itu, kolaborasi multi-pihak ini sukses mempererat kerja sama jejaring antara universitas, penerbit independen, serta komunitas literasi lokal di Malang Raya.
Pelaksanaan agenda akademik ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini menyokong SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan ruang belajar kontekstual dan edukasi kritis berbasis riset sejarah terpercaya bagi masyarakat luas. Di samping itu, sinergi ini merefleksikan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang ditunjukkan lewat kolaborasi multipihak yang solid antara lembaga perguruan tinggi, unit perpustakaan, industri penerbitan, dan komunitas literasi lokal.
Kendati demikian, tantangan utama pasca-diskusi ini terletak pada keberlanjutan tradisi baca dan kajian kritis terhadap isu-isu kebudayaan dan sejarah di tingkat mahasiswa agar tidak berhenti pada satu momen seremoni saja. Mengantisipasi hal tersebut, Departemen Sejarah FIS UM merekomendasikan pembentukan forum kajian literasi rutin bersama komunitas mitra serta penerbitan ulasan buku berkala di media akademik. Langkah taktis ini dinilai sangat penting untuk merawat iklim akademik yang inklusif sekaligus memperkuat tradisi literasi berkelanjutan di lingkungan kampus dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan