MALANG, yustitiamedia.com — Suara tegas bergema di batas kawasan hutan Sengguruh, Bantur. Di bawah terik matahari yang masih menyisakan panas kemarau, para pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat berdiri tegak, menyampaikan pesan yang tak bisa diabaikan: Hutan bukan milik api, ia adalah nyawa kita semua. Sabtu 05/09/2026

 

Kegiatan peringatan dan sosialisasi larangan pembakaran hutan dan lahan ini dipimpin langsung oleh Asper BKPH Sengguruh, Bapak Astiko, hadir bersama Kapolsek Bantur AKP Ahmad Taufik Syafiudin, S.H., M.H., Babinsa Srigonco, serta Ketua LMDH Wononadi, Mbah Karyo Siyono Utomo  tokoh yang tak asing lagi bagi warga desa hutan. Pesan yang sarat makna dan peringatan keras.

 

Suara Bapak Astiko terdengar lantang, menembus kesunyian hutan yang mulai kering, “Lihatlah sekelilingmu. Hutan ini menahan air, memberi nafas, menahan tanah agar tidak longsor. Satu api yang kau nyalakan demi lahan sesaat, bisa melahap rumah, sumber air, dan masa depan anak cucu kita. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Pasal 50 Ayat 3 Huruf D bukan sekadar tulisan ia adalah peringatan nyata: 5 tahun penjara dan denda Rp1,5 MILIAR. Tapi jauh lebih mahal dari itu, kerusakan hutan tak bisa dibayar dengan uang apa pun. Jangan bermain api di rumah kita sendiri.”

 

Papan peringatan besar yang dipasang di lokasi kini berdiri sebagai saksi bukan sekadar peraturan, melainkan janji untuk melindungi apa yang menjadi hak bersama.

 

Kapolsek Bantur, AKP Ahmad Taufik Syafiudin, S.H., M.H., menegaskan bahwa aparat keamanan tak akan tinggal diam. Tatapannya tajam, penuh ketegasan, “Musim kemarau adalah musim paling berbahaya bagi hutan kita. Satu percikan saja bisa menjadi bencana yang tak terkendali. Polsek Bantur bersama Polhut dan Babinsa akan memperketat patroli, siang maupun malam. Siapa pun yang berani membakar lahan tak peduli alasan apa pun akan kami proses sesuai hukum yang berlaku tanpa kompromi. Hutan adalah tanggung jawab kita bersama, dan kami tak akan membiarkan siapa pun merusaknya.”

 

Suara Mbah Karyo terdengar rendah namun penuh emosi, menyentuh hati setiap warga yang hadir

“Saya lahir dari hutan ini, hidup dari hutan ini, dan berharap anak cucu saya pun demikian. Jangan karena keuntungan sesaat, kita menghancurkan apa yang telah dijaga leluhur ratusan tahun. Api tak mengenal batas lahan. Sekali menyala, ia akan menghabiskan semuanya — rumput, pohon, bahkan rumah kita sendiri. Mari kita jaga. Bukan karena ada sanksi, tapi karena ini rumah kita.”

 

Kegiatan ini bukan sekadar penyampaian himbauan ini adalah pernyataan perang terhadap api yang siap melahap hutan kita. Pengelola hutan, aparat keamanan, dan masyarakat desa hutan kini berdiri dalam satu barisan: Satu suara, satu tekad CEGAH KEBAKARAN, SELAMATKAN HUTAN.

 

Di tengah musim kemarau yang masih panjang, pesan ini bergema: Hutan tidak butuh kita untuk hidup, tapi kita butuh hutan untuk tetap hidup. (Red)