BLITAR, yustitiamedia.com – Upaya pelestarian warisan budaya terus berkembang seiring pemanfaatan teknologi digital. Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) bersama Komunitas Menapak Jejak Sejarah (MJS) melakukan digitalisasi Candi Gambar Wetan di Kabupaten Blitar sebagai langkah preservasi terhadap situs cagar budaya yang berada di kawasan rawan bencana.
Kegiatan kolaboratif yang berlangsung pada 11–12 Juli 2026 itu dikemas dalam riset lapangan sekaligus Jagong Budaya bertajuk Risalah Gunung Kampud. Selain menghasilkan dokumentasi ilmiah, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog kebudayaan yang mempertemukan akademisi, komunitas sejarah, dan masyarakat.
Tim peneliti Departemen Sejarah UM yang terdiri atas Slamet Sujud Purnawan Jati, Arif Subekti, Donny Maulana, dan Moch Nizam Alfahmi berkolaborasi dengan perwakilan MJS, Eko Hasumi Aditya, menerapkan teknologi pemetaan digital untuk mendokumentasikan kondisi Candi Gambar Wetan secara menyeluruh.
Digitalisasi dilakukan melalui pemotretan udara menggunakan pesawat nirawak (drone) yang diproses menjadi model tiga dimensi (3D) berpresisi tinggi. Selain itu, tim juga merekam video sinematografi sebagai bahan penyusunan film dokumenter mengenai sejarah dan nilai penting Candi Gambar Wetan.
Ketua Tim Penelitian Departemen Sejarah UM, Slamet Sujud Purnawan Jati, mengatakan digitalisasi menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan data dan informasi situs budaya apabila sewaktu-waktu mengalami kerusakan akibat faktor alam maupun aktivitas manusia.
“Digitalisasi Candi Gambar Wetan menjadi upaya pelestarian cagar budaya yang sangat penting dan mendesak. Upaya ini tidak hanya melindungi candi dari kerusakan akibat aktivitas manusia, tetapi juga sebagai mitigasi terhadap ancaman bencana alam. Sebagaimana diketahui, candi ini berada dalam kawasan rawan bencana sehingga memerlukan perhatian dan perlakuan khusus,” ujarnya.
Menurutnya, dokumentasi digital bukan hanya berfungsi sebagai arsip ilmiah, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan, konservasi, hingga pengembangan media edukasi sejarah berbasis teknologi.
Tidak hanya berorientasi pada aspek teknis, kegiatan tersebut juga menghadirkan Jagong Budaya sebagai forum berbagi pengetahuan mengenai sejarah, pelestarian budaya, dan nilai-nilai peradaban masa lalu. Diskusi berlangsung dalam suasana santai di kawasan candi sehingga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan masyarakat.
Perwakilan Komunitas Menapak Jejak Sejarah (MJS), Eko Hasumi Aditya, menegaskan bahwa komunitasnya memiliki komitmen untuk menumbuhkan kecintaan terhadap peninggalan sejarah melalui pendekatan yang edukatif sekaligus menyenangkan.
“Selama dua tahun MJS berkegiatan, kami meyakini bahwa kecintaan terhadap peninggalan sejarah harus terus dirawat dengan pendekatan yang rekreatif tanpa mengesampingkan nilai edukasi. Dengan cara itu, masyarakat akan lebih mudah mengenal, memahami, sekaligus mencintai warisan budaya bangsa,” katanya.
Komunitas Menapak Jejak Sejarah (MJS) sendiri didirikan oleh 12 penggiat sejarah pada 18 Mei 2024 di Candi Selokelir, Trawas, Mojokerto. Berbasis di Kabupaten Sidoarjo di bawah kepemimpinan Mohamad Fahmi, S.S., komunitas ini mengusung motto Historis, Edukatif, Rekreatif.
Berbagai kegiatan MJS dikemas dalam bentuk kemah budaya selama dua hari satu malam di sekitar situs-situs bersejarah. Konsep tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar sejarah secara langsung melalui eksplorasi lapangan, diskusi, serta interaksi dengan berbagai tinggalan budaya.
Sebelumnya MJS telah menyelenggarakan kegiatan di kawasan Gunung Penanggungan, kompleks kolonial Kerkhoff Peneleh Surabaya, hingga Candi Gunung Telih. Kolaborasi dengan Departemen Sejarah UM di Candi Gambar Wetan menjadi langkah baru dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas pelestari sejarah.
Melalui digitalisasi ini, Candi Gambar Wetan diharapkan memiliki dokumentasi digital yang lengkap sebagai arsip penyelamatan jangka panjang sekaligus menjadi media edukasi publik yang dapat diakses dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mendukung pelestarian warisan budaya Indonesia.



Tinggalkan Balasan