MALANG, yustitiamedia.com – Universitas Negeri Malang (UM) kembali menghadirkan inovasi di bidang pendidikan melalui pengembangan Immersive Geographical Inquiry Learning (IGIL) Framework, sebuah kerangka pembelajaran Geografi Lingkungan yang memadukan teknologi imersif dengan pendekatan pembelajaran aktif. Inovasi ini dihadirkan sebagai respons terhadap meningkatnya kompleksitas persoalan lingkungan, mulai dari perubahan iklim, pencemaran, hingga kerusakan ekosistem yang menuntut metode pembelajaran lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi nyata.
IGIL Framework dirancang untuk mengubah cara mahasiswa mempelajari Geografi Lingkungan. Tidak hanya memahami teori di dalam kelas, mahasiswa juga diajak mengamati, mengeksplorasi, dan menganalisis berbagai fenomena lingkungan melalui pengalaman belajar yang lebih interaktif dan berbasis teknologi.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dapat melihat keterkaitan antara manusia, ruang, dan lingkungan secara lebih komprehensif. Teknologi imersif yang digunakan memungkinkan berbagai fenomena yang sulit dihadirkan secara langsung di lapangan dapat divisualisasikan sehingga lebih mudah dipahami.
Pengembangan IGIL Framework dipimpin oleh dosen Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial UM, Dr. Novika Adi Wibowo, S.Pd., M.Pd., bersama tim yang terdiri atas Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., Fahir Hassan, S.T., M.T., Ph.D., Dr. Hasan Argadinata, S.Pd., M.Pd., mahasiswa pendukung penelitian, mitra kolaborasi, serta peneliti dari University of Wollongong, Australia.
Kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara tersebut dilakukan untuk memastikan kerangka pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya unggul dari sisi pemanfaatan teknologi, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan pembelajaran Geografi Lingkungan di perguruan tinggi.
Sebelum diimplementasikan kepada mahasiswa, IGIL Framework terlebih dahulu melalui proses telaah oleh dosen Teknologi Pendidikan. Tahapan ini bertujuan memastikan desain pembelajaran, pemanfaatan teknologi, hingga aktivitas mahasiswa tersusun secara sistematis, efektif, dan mudah diterapkan dalam proses perkuliahan.
Berbagai masukan yang diperoleh kemudian digunakan untuk menyempurnakan kerangka pembelajaran sehingga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Dalam implementasinya, IGIL Framework mendorong mahasiswa untuk belajar secara aktif melalui proses bertanya, mengamati, mengumpulkan informasi, membaca data, hingga menyusun pemahaman berdasarkan fenomena lingkungan yang dipelajari. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap berbagai isu lingkungan yang kompleks.
Teknologi imersif menjadi salah satu keunggulan utama dalam kerangka pembelajaran ini. Berbagai objek, kondisi, maupun persoalan lingkungan dapat divisualisasikan secara lebih nyata sehingga materi yang sebelumnya bersifat abstrak menjadi lebih mudah dipahami melalui pengalaman yang menyerupai observasi lapangan.
Ketua tim pengembang, Dr. Novika Adi Wibowo, mengatakan pembelajaran Geografi Lingkungan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menyesuaikan karakteristik generasi mahasiswa saat ini.
“Melalui IGIL Framework, kami ingin menghadirkan pembelajaran Geografi Lingkungan yang lebih hidup. Mahasiswa tidak hanya membaca atau mendengar penjelasan, tetapi juga diajak mengalami, mengamati, dan memahami isu lingkungan melalui pengalaman belajar yang lebih imersif,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi salah satu upaya UM dalam memperkuat transformasi pembelajaran berbasis teknologi yang mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sekaligus membangun kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan.
Melalui IGIL Framework, mahasiswa diharapkan dapat memahami isu perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga konsep pembangunan berkelanjutan secara lebih mendalam karena diperoleh melalui pengalaman belajar yang dekat dengan realitas kehidupan.
Pengembangan IGIL Framework juga menjadi bagian dari komitmen Universitas Negeri Malang dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Quality Education) melalui penyelenggaraan pendidikan yang inovatif dan berkualitas, serta Tujuan 13 (Climate Action) melalui penguatan pembelajaran yang mendorong kesadaran dan aksi nyata terhadap perubahan iklim serta keberlanjutan lingkungan.



Tinggalkan Balasan