Malang, yustitiamedia.com – Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang menerima tamu dari University of Newcastle pada hari Kamis, 16 Juli 2026. Pertemuan ini berlangsung di Laboratorium Museologi, FIS UM.

Hadir dalam pertemuan ini diantaranya Rektor Universitas Negeri Malang (Prof. Hariyono), Wakil Dekan 3 FIS UM (Abdul Kodir, Ph.D), Guru Besar Sejarah UM (Prof. Joko Sayono), Koordinator Program Studi S2 dan S3 Sejarah UM (Aditya N. Widiadi, Ph.D), Sekretaris Departemen Sejarah (Arif Subekti, M.A) dan beberapa dosen dari Departemen Sejarah (Moch. Nizam Alfahmi, M.Pd; Ronal Ridhoi, M.A; dan Donny Maulana, M.Pd).

Sementara itu, tamu dari University of Newcastle adalah Dekan Fakultas Pendidikan (Prof. Susan Ledger), serta seorang pakar di bidang pendidikan (Prof. Scott Imig).

Pertemuan yang dilaksanakan dalam tajuk “Historical Forum: Advancing Global Academic and Research Collaboration” ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan antar para akademisi lintas universitas, namun juga membuka berbagai kemungkinan kerjasama antar kedua institusi (Universitas Negeri Malang, Indonesia dengan The University of Newcastle, Australia).

“Prinsipnya adalah membuka dan memperluas jejaring, itu kata kunci yang paling utama ya. Kemudian yang kedua untuk memperkuat jejaring ke depannya. Katakanlah kita bisa melakukan kolaborasi riset dan seterusnya,” terang Adit kepada media.

Sebagai tambahan informasi, ini adalah pertemuan perdana Departemen Sejarah UM dengan The University of Newcastle, Australia. Maka dari itu, pertemuan yang dilaksanakan menjadi ajang untuk melakukan penjajakan kerjasama antar kedua institusi.

“Tujuannya paling utama tentu memperkuat kolaborasi antar kedua institusi. Kalau berdasarkan diskusi tadi sih poin sebenarnya bahwa kita tidak bisa berjalan sendiri,” tambah Adit.

Selain kolaborasi penelitian, rencana kerjasama yang dijajaki juga dalam hal kolaborasi publikasi jurnal internasional bereputasi, joint lecture dan adjunct professor.

“Harapan saya ke depan, ya semoga UM semakin Jaya dan menjadi level internasional,” tandasnya. (Red)